Wawasan Parepare – Dugaan tindakan pelecehan seksual yang melibatkan seorang dosen di Institut Teknologi Habibie (ITH) Parepare terhadap mahasiswanya menjadi perhatian publik. Menanggapi isu tersebut, pihak kampus menegaskan sikap tegas dengan membuka ruang pelaporan dan menyatakan dukungan penuh kepada korban.
Pimpinan ITH Parepare menyampaikan bahwa kampus tidak akan mentoleransi segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan akademik dan berkomitmen menindaklanjuti setiap laporan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kampus Tegaskan Sikap: Tidak Ada Toleransi Kekerasan Seksual
Pihak ITH Parepare menegaskan bahwa kampus memiliki komitmen kuat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan seksual. Dugaan pelecehan yang mencuat disebut sebagai persoalan serius yang harus ditangani secara profesional dan berpihak pada korban.
“Kami mendorong korban untuk melapor secara resmi. Kampus siap memberikan pendampingan dan perlindungan,” tegas perwakilan pimpinan ITH Parepare.
Mekanisme Pelaporan Dibuka dan Dijamin Kerahasiaannya
Pihak kampus memastikan bahwa mekanisme pelaporan telah tersedia, baik melalui jalur internal kampus maupun melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), sesuai regulasi yang berlaku di lingkungan perguruan tinggi.
Pelapor dijamin kerahasiaan identitasnya serta akan mendapatkan pendampingan, termasuk dukungan psikologis dan bantuan administratif selama proses berjalan.
“Kami pastikan korban tidak akan dirugikan secara akademik. Keamanan dan hak korban menjadi prioritas,” lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-26-JANUARI-ITH-PARE.jpg)
Baca juga: Dino Planet Meriahkan Parepare, Wahana Anak dan Jajanan UMKM Jadi Daya Tarik
Dugaan Masih Didalami, Kampus Siap Ambil Langkah Tegas
Terkait dosen yang diduga terlibat, pihak kampus menyatakan bahwa proses klarifikasi dan pendalaman akan dilakukan setelah laporan resmi diterima. Jika terbukti melakukan pelanggaran, sanksi tegas akan dijatuhkan sesuai peraturan internal kampus dan perundang-undangan yang berlaku.
Sanksi tersebut dapat berupa pembinaan, pemberhentian sementara, hingga pemecatan, tergantung pada tingkat pelanggaran yang dilakukan.
Dorong Budaya Berani Bicara di Lingkungan Akademik
ITH Parepare juga mengajak seluruh civitas akademika untuk tidak takut melapor apabila mengalami atau mengetahui tindakan kekerasan seksual. Menurut pihak kampus, budaya saling melindungi dan berani bersuara sangat penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Kampus harus menjadi ruang aman. Jika ada pelanggaran, jangan diam. Kami ada untuk mendukung,” ujarnya.
Publik Minta Transparansi dan Penanganan Serius
Kasus dugaan ini turut memicu perhatian publik dan mahasiswa, yang berharap penanganan dilakukan secara transparan, adil, dan berpihak pada korban. Banyak pihak menilai langkah tegas kampus akan menjadi tolok ukur komitmen dunia pendidikan dalam memberantas kekerasan seksual.
Pihak ITH Parepare menegaskan kembali bahwa kepercayaan publik dan keselamatan mahasiswa merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga dengan serius.





